Sistem Bus Rapid Transit (BRT) telah menjadi solusi yang cepat dan relatif terjangkau untuk mengatasi kemacetan dan kebutuhan mobilitas di banyak kota metropolitan Asia. BRT menawarkan layanan berkualitas seperti kereta api ringan, tetapi dengan biaya pembangunan yang jauh lebih rendah. Karakteristik utamanya adalah jalur khusus bus (busway), stasiun tertutup, dan sistem ticketing di luar bus untuk mempercepat waktu keberangkatan.
Keberhasilan implementasi BRT di kota-kota seperti Jakarta, Curitiba (Brasil – sebagai model awal yang diadopsi Asia), dan Guangzhou menunjukkan potensi besarnya. BRT mampu mengangkut volume penumpang yang besar dengan kecepatan yang lebih baik dibandingkan bus reguler karena terisolasi dari lalu lintas umum. Ini menjadikannya pilihan menarik bagi komuter yang mencari alternatif dari kendaraan pribadi.
Namun, tantangan dalam mengoperasikan BRT di Asia juga signifikan. Isu seperti pelanggaran jalur bus oleh kendaraan pribadi, kurangnya integrasi dengan moda transportasi lain, dan masalah pemeliharaan infrastruktur seringkali menghambat efisiensi optimalnya. Untuk mengatasi ini, diperlukan penegakan hukum yang ketat dan investasi berkelanjutan dalam integrasi sistem.
Melihat kepadatan populasi perkotaan yang terus meningkat, BRT akan tetap menjadi tulang punggung transportasi publik di banyak negara Asia dalam jangka menengah. Inovasi seperti bus listrik, sistem informasi penumpang yang canggih, dan desain stasiun yang terintegrasi dengan pengembangan kawasan transit (TOD) adalah langkah-langkah selanjutnya untuk memaksimalkan efektivitasnya sebagai solusi kemacetan.

