Gelombang gerakan sosial baru-baru ini di beberapa negara Asia dipicu oleh tuntutan mendesak untuk reformasi sistem pendidikan. Para pelajar, orang tua, dan akademisi berargumen bahwa sistem pendidikan saat ini terlalu fokus pada hafalan, memicu persaingan yang tidak sehat, dan gagal mempersiapkan siswa dengan keterampilan yang dibutuhkan di pasar kerja abad ke-21.
Kritik diarahkan pada budaya ujian yang sangat menekan dan kurikulum yang tidak relevan dengan kebutuhan ekonomi berbasis inovasi dan teknologi. Tingginya angka stres dan masalah kesehatan mental di kalangan siswa di Asia juga sering dikaitkan dengan tekanan akademik yang berlebihan. Gerakan ini menuntut pendekatan yang lebih holistik dan berorientasi pada pengembangan keterampilan berpikir kritis.
Pemerintah mulai merespons dengan memperkenalkan kurikulum yang lebih fleksibel, mengurangi beban ujian nasional, dan memprioritaskan pendidikan kejuruan dan STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika). Penerapan teknologi dalam pembelajaran juga diakselerasi, memungkinkan siswa mengakses sumber daya pendidikan yang lebih beragam.
Namun, implementasi reformasi ini menghadapi resistensi dari sistem lama yang sudah mapan dan kebutuhan untuk melatih ulang jutaan guru. Suksesnya reformasi pendidikan di Asia akan sangat menentukan kemampuan kawasan ini untuk mempertahankan daya saing ekonomi dan menciptakan masyarakat yang lebih inovatif.
Gerakan sosial di Asia menuntut reformasi sistem pendidikan yang dianggap terlalu berorientasi hafalan dan menekan, mendorong pemerintah untuk menerapkan kurikulum yang lebih fleksibel, mengurangi beban ujian, dan memprioritaskan keterampilan abad ke-21.

