Isu keberlanjutan (sustainability) telah merambah industri fashion Asia, yang dulunya didominasi oleh fast fashion. Kini, konsumen yang semakin sadar lingkungan mencari alternatif, dan merek-merek lokal Asia merespons dengan mengadopsi praktik daur ulang dan upcycling dalam proses produksi mereka.
Banyak brand kecil hingga menengah di Asia kini berfokus pada penggunaan material daur ulang, seperti plastik PET bekas atau limbah tekstil. Mereka mengubahnya menjadi benang berkualitas tinggi untuk membuat pakaian baru. Pendekatan ini secara signifikan mengurangi permintaan akan bahan baku perawan dan meminimalkan jumlah limbah yang berakhir di TPA (Tempat Pembuangan Akhir).
Keberlanjutan di Asia tidak hanya terbatas pada bahan; ia juga mencakup rantai pasokan yang etis, penggunaan pewarna alami, dan desain pakaian yang abadi (timeless) untuk melawan budaya “pakai-buang” fast fashion. Merek-merek ini seringkali menonjolkan transparansi dalam proses produksi mereka sebagai bagian dari etos merek.
Meskipun menghadapi tantangan biaya produksi yang lebih tinggi dibandingkan fast fashion, merek lokal berkelanjutan berhasil menarik ceruk pasar yang didominasi oleh Gen Z dan Milenial yang bersedia membayar lebih untuk produk yang selaras dengan nilai-nilai mereka. Fashion sustainability di Asia adalah pergerakan yang menghubungkan gaya dengan tanggung jawab lingkungan dan sosial.

